Showing posts with label Tulungagung Kotaku. Show all posts
Showing posts with label Tulungagung Kotaku. Show all posts

Tuesday, July 14, 2009

Mbah Surip Seorang enginer di bidang pengeboran minyak , Drs , insinyur , MBA menghiasi nama aslinya Urip aryanto


Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik
pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana
............ ..

Masyarakat Indonesia yang sering menonton televisi,dan terutama pecinta musik dan kesenian pasti akan tahu lirik ini dan mengenal sosok yang menyanyikannya yaitu Mbah Surip. Tiap hari kita melihat video klip Lagu yang berjudul "Tak Gendong" sering tampil di berbagai acara musik di Televisi. Dengan rambut gimbal penuh asseories rasta ala penyanyi Reggae, serta dengan tawanya yang lepas Ha ha ha ha telah membuat Mbah Surip dikenal luas masyarakat Indonesia . Sewaktu dengerin lagunya, lucu banget dan sederhana sekali liriknya tapi tetap memiliki arti yang dalam. Namun siapakah sebenarnya Mbah Surip ini ? Bagaimana perjalanan hidupnya sehingga dapat menjadi orang terkenal saat ini ?

Awal Kehidupan Mbah Surip

Mbah Surip dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1949 di Mojokerto Jawa Timur. Dilahirkan dengan nama Urip Ariyanto. Saat ini Mbah Surip berstatus duda dengan empat anak dan sekaligus juga sebagai kakek dengan empat cucu. Menurut pengakuannya Mbah Surip termasuk orang yang senang sekolah, Mbah Surip memiliki ijazah SMP, ST, SMEA, STM, Drs. sama insinyur dan MBA. Selain sebagai penyanyi, Mbah SUrip pernah merasakan pengalaman bekerja di bidang pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan lain-lain bahkan pernah bekerja di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania dan California. Namun Merasa nasibnya kurang baik, Mbah Surip mencoba peruntungan dengan pergi ke Jakarta . Di Ibukota Jakarta, ia bergabung dengan beberapa komunitas seni seperti Teguh Karya, Aquila , Bulungan, dan Taman Ismail Marzuki. Pada suatu waktu, nasib menentukan lain. Mbah Surip mendapat kesempatan untuk rekaman dan akhirnya meraih kesuksesan seperti sekarang.

Perjalanan di Dunia Musik

Dalam perjalanan musiknya Mbah Surip telah mengeluarkan beberapa album musik. Album rekamannya dimulai dari tahun 1997 diantaranya, Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan barang Baru (2004). Namun ternyata lagu Tak Gendong diciptakan pada tahun 1983 saat Mbah Surip bekerja di Amerika Serikat. Menurut Mbah Surip Filosofi dari lagu ini yaitu Belajar salah itu, yang digendong ya siapa saja, entah baik, galak, nakal, atau jahat. Seperti bus, nggak peduli penumpangnya, entah itu copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar salah.Hmm..



Mbah Surip tampil juga lewat video klip “Witing Trisno” karangan Tony Q Rastafara di MTV. Ciri khas dari setiap aksinya di panggung musik yaitu selalu ditemani "Gitar Kopong" nya, menyanyi dengan sangat relax dan nyanyi “ngalor-ngidul” dengan gaya-nya yang khas; kocak, gila, dan bebas ekspresi.

Karakter inilah yang membuat Emha Ainun Najib atau Cak Nun sering menggambarkan sosok Mbah Surip adalah gambaran “Manusia Indonesia Sejati” yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa, meskipun seringkali di ledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa tidak pernah dendam, atau membalas ledekan tersebut. Bahkan terkadang Mbah Surip bingung untuk pulang karena kehabisan ongkos. Hasilnya Mbah Surip mengejawantahkan kesusahannya dalam sebuah lagu “minta ongkos pulang”. Dalam lagu tersebut Mbah Surip bercerita tentang pacarnya, meskipun kita ragu kalau Mbah Surip pernah berpacaran. Pada bait akhir lagunya mbah Surip meminta sesuatu kepada yayangnya (panggilan Mbah Surip kepada pacarnya dalam lagu tersebut),

Yang, boleh ga aku pegang tanganmu ?.. boleh, boleh boleh..
Yang, boleh ga aku cium kamu ?, ..boleh, boleh boleh…
Yang, boleh ga aku minta ongkos pulang ?,… boleh, boleh boleh…

Selain lagu Hit Tak Gendong lagu Mbah Surip lainnya sudah sangat dekat dan bersahabat di telinga Cak Nun dan jamah kenduri cinta, diantaranya: “Bangun Tidur, atau Turunkan harga minyak angin”. Bahkan lagu Tak Gendong sempat di tayangkan video klip nya di stasiun televisi swasta. Terkadang mbah Surip mambawakan lagu tanpa syair dan tanpa nada dengan judul “diam bersama atau saling memandang” . Namun yang terjadi bukannya penonton diam atau saling memandang malah membuat orang tertawa terbahak-bahak.
Ha ha ha ha I Love you Full !!

Lirik Lengkap Lagu "Tak Gendong"

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Ha…Ha…

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taxi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Profil Mbah Surip :

Nama Lengkap : Urip Ariyanto
Nama Beken : Mbah Surip
Tempat Lahir : Mojokerto, Jawa Timur
Tanggal Lahir : 5 Mei 1949
Gelar Pendidikan : Drs, Insinyur dan MBA
Resep sehat : Jangan makan yang nggak kamu sukai dan bergaullah dengan orang yang kamu sukai.
Pekerjaan lama : Engineer di bidang pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan lain2
Makanan Favorit : Perkedel kentang
Minuman Favorit : Kopi hitam
Aliran Musik : Reggae
Jargon : I Love You Full

Sumber: email milist YH

Wednesday, April 15, 2009

Tulungagung --->> alun - alun

Perjalanan pulang kampung saya telah tiba di kota tercinta tulungagung. Tata kota Tulungagung sangat dipengaruhi oleh arsitektur kota kerajaan Mataram. Pusat kota merupakan pusat kendali pemerintahan. Merupakan sebuah tanah lapang untuk berkumpul, sisi sebelah timur adalah istana pemerintahan, sisi sebelah barat adalah masjid untuk tempat ibadah.

Seiring lajunya peradaban modern, pusat kota Tulungagung juga termodifikasi meskipun sisa-sisa tata kota kerajaan ini masih sangat terasa. Tanah lapang sebagai pusat kota telah disulap menjadi taman yang asri bernama Taman Kusuma Wicitra. Sisi sebelah timur adalah Pendapa Tulungagung, sebuah rumah joglo sebagai simbol pengaruh Mataram Islam di kota ini. Sisi sebelah barat adalah Masjid Al-Munawar, masjid terbesar di kota ini.

Taman Kusuma Wicitra



Dulu waktu saya masih di bangku sekolah tepatnya STM (maklum anak'e wong ra duwe ), kawasan ini adalah pusat jajanan yang dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang jika malam menjelma menjadi pasar malam yang ramai. Mungkin karena pertimbangan kerapian dan ketertiban, Satpol PP mengusir semua pedagang dan mengubah kawasan ini menjadi sebuah taman kota.


Kini taman ini selain dihiasi oleh tumbuhan yang terawat, tempat untuk duduk-duduk, juga beberapa pagupon (Jawa: sarang merpati — red) ditempatkan di empat sudut taman. Adanya burung-burung merpati ini mungkin diinspirasikan dari taman-taman di Eropa seperti film Home Alone-nya Macaulay Culkin.

Masjid Al - Munawar



Lihat arsitekturnya. Masjid ini tidak memiliki kubah yang bulat, tetapi segitiga. Perpaduan arsitektur Arab dengan Jawa (joglo). Masjid ini telah mengalami renovasinya yang terbaru seperti penambahan lis pintu utama yang saya kira mengadaptasi arsitektur Masjid Nabawi, Madinah. Sayangnya, ubahan ini terlalu berat karena ruang yang terlalu sempit. Sehingga dengan adanya hiasan ini, masjid ini jadi terlihat sempit dan kurang lega.



Namun demikian, seperti masjid-masjid lainnya, suasana di dalam sangat sejuk dan syahdu. Ini tempat favorit saya untuk shalat Jumat kalau sedang pulang kampung.

Kantor Post Tulungagung



Bangunan berwarna oranye yang sangat khas ini mencoba bertahan di tengah gempuran media komunikasi modern. Di sinilah tempat saya mengenal internet pertama kalinya di tahun 1999. Berbekal uang Rp. 6000 sejam, saya belajar membuat email yahoo berkapasitas 6 MB, mengenal dunia penuh kebohongan bernama IRC (asl pls… :D ), dan mulai menyentuh dunia desain web lewat geocities.com dengan Yahoo! Page Builder-nya.

Hotel Gajah Mas



Hotel kelas melati yang mencoba eksis di antara sedikit hotel yang masih ada di Tulungagung. Mulai dari saya balita hingga sudah hampir menikah ini (ceileeh…), tampilan hotel ini tetap begitu-begitu saja. Tidak ada yang berubah sama sekali. Kalem sekali hotel ini menyikapi laju zaman yang begitu cepat berlari.

Kawasan Pendopo Tulungagung



Saya hanya bisa memotret gapuranya. Bahkan dari jarak seratus meteran, bapak-bapak Satpol PP yang sedang berjaga di depan gerbang pendapa bisa mengetahui kamera saya dan langsung siaga. Siap melotot dan mengusir saya jika berusaha mendekat. Ya sudah, saya tak mau ribut-ribut. Kabarnya, pusaka utama Tulungagung, keris Kiai Upas disimpan di sini. Pantas kalau dijaga ketat, hehehe…